Desa Dawan Kaler

Perbekel Desa Dawan Kaler

I Kadek Sudarmawa, SH

Sejarah Desa

  • Dibaca: 401 Pengunjung

Sejarah Singkat Desa Dawan Kaler.

 

           Tersebutlah kisah sebuah bukit membujur dari selatan ke utara yang terletak di perbatasan antara daerah Kabupaten Karangasem dengan Kabupaten Klungkung.

Bentuk Bukit tersebut memanjang yang disebelah selatan ditumbuhi bambu buluh sehingga disebut bukit Buluh. Yang diatasnya terdapat Bukit Mastapa. Yang selanjutnya berhubungan ke utara semakin tinggi dengan puncaknya di utara yang disebut dengan bukit Abah yang juga mengandung arti Bapak atau Guru.

            Selanjutnya agak menurun sedikit dari arah Timur Laut ke Selatan nampak bukit yang tidak terlalu panjang. Dibawahnya terdapat pondok-pondok berjajar yang letaknya memanjang sehingga disebut Dawa yang berarti panjang, yang pada akhirnya sebutan Dawa menjadi Dawan, karena berati panjang maka sebutan Desa Dawan dibedakan menurut letaknya:  Dawan Utara ( Kaler), Dawan Tengah dan Dawan Klod.

             Hal mana sesuai dengan apa yang termuat dalam prasasti I Gusti Kladian selanjutnya tersebutlah bahwa dipuncak bukit Abah  tinggal  Berpesraman seorang pendeta sakti yang bernama Ida Pedanda Sakti Abah. Di tempat tersebut hingga kini masih terdapat bukti-bukti ada pelinggih, tempat beliau memuja dengan dikelilingi taman bunga dan Telaga tempat permandian atau pesucian ( Permandian).

             Dan selanjutnya diceritakan saat pemerintahan Ida Dalem Dimade di Puri Gelgel, datang menghadap pengungsi dari Dlod Besakih meninggalkan Daerah kekuasaanya karena dikalahkan dalam Peperangan oleh I Gusti Panji Sakti dari Den Bukit (Buleleng). Kedatangannya menghadap Ida Dalem menceriterakan tentang peristiwa yang dialami, sehingga Ida Dalem menaruh perhatian atas hormatnya sebagai  Kubayan ( Penguasa di Desa Dawan ),

 

 

             Setelah itu pada suatu saat terjadi Pembrontakan I Gusti Agung Maruti terhadap Ida Dalem  di Gelgel, sehingga Raja Gelgel  terpaksa mengungsi ke Sidemen yang  akhirnya untuk menghadapi pembrontakan tersebut datang menghadap Kubayan Kuta Panjangan kepada Ida Dalem siap dengan Prajurit yang mempergunakan tanda topi kukusan ( capil saingan ) dan tombak beroncer daun jagung.

              Begitu pula pada waktu terjadi serangan dari I Gusti Jelantik dari Karangasem ke Gelgel pada akhirnya dapat digagalkan  oleh Kubayan Kuta Panjangan, kerena telah dihadang dengan duri belatung disertai dengan pemondokan Prajurit yang memanjang sehingga tempat itu disebut  Pondok Dawa.

               Atas kesetiaan serta  jasa-jasanya, Raja menghadiahkan sebidang sawah yang terletak dibukit  Sambong yang berarti Perahu karena disebelah – menyebelahnya dikelilingi air sehingga nampak seperti perahu ditengah air.

Setelah Kubayan Kuta Panjangan  menetap sebagai penguasa di wilayah Dawan pada hari baik Selasa Kliwon Raja Gelgel datang ke  Desa Dawan.

Akan tetapi pada saat kedatangan beliau ke Dawan belum ada bangunan yang layak untuk tempat beristirahat seorang Raja, maka beliau beristirahat diatas bukit di sebelah Timur Desa Dawan. Di tempat peristirahatan di atas bukit Kubayan Kuta Panjangan menceriterakan bahwa ada  di bukit Abah tinggal Berasrama seorang Pendeta yang bernama Ida Pedanda Sakti Abah, sehingga diutuslah Kubayan Kuta Panjangan untuk memanggil sang Pendeta untuk menghadap Raja. Pada saat Sang Pendeta menghadap Raja beliau membawa tongkat yang ditancapkan ditempat beliau menghadap Raja.

Akhirnya dari sejak pertemuan tersebut Raja memerintahkan agar di tempat pertemuan dibangun pelinggih Pariyangan dengan ditetapkan hari upacara setiap Budha Umanis Medangsia dimana Ida Dalem datang menghaturkan sembah.

Sedangkan Tongkat Ida Pedanda Sakti Abah yang ditancapkan pada saat menghadap Raja ternyata tumbuh menjadi sebatang pohon asem yang akhirnya berbuah Linglang, yakni buah di sebelah Utara terasa asam dan buah pada cabang di sebelah Selatan terasa manis. Mulai saat itulah Bukit tersebut disebut Bukit Lingga karena tempat itu merupakan  Lingga atau Lungguh tempat duduk Raja berbincang-bincang  dengan Sang Pendeta yang menancapkan Tongkat yang tumbuh menjadi sebatang pohon asem dimana dibawah pohon asem tersebut dibangun pelinggih yang dinamakan pura Bukit Lingga yang menjadi Penyungsungan Desa Adat Dawan.

          Sehingga nama Bukit Lingga dapat dikatakan perpaduan Lingga berarti Linggih Raja beristrirahat dan Lingga berlambang Tongkat yang ditancapkan oleh Ida Pedanda Sakti Abah tumbuh menjadi sebatang pohon Asem.

          Tersebutlah Kuta Panjangan telah cukup lama berkuasa diwilayah Desa Dawan sekitar tahun Icaka l500 ( tahun l578 M ) terjadi wabah yang menyerang  warga Desa Dawan Lor ( bagian Utara ) sehingga sampai lebih banyak yang mati dari yang masih hidup. Sedangkan tempat menguburkan mayat cukup jauh sebelah Selatan, sehingga menyulitkan untuk menguburkan karena hebatnya serangan wabah. Pada saat mengusung mayat terjadi satu peristiwa yang amat aneh dengan tak terduga-duga  Paga ( alat pengusungan  ) kebes ( terbelah )  sehingga mayat terpaksa dikuburkan ditempat kejadian tersebut.

Sejak terjadi peristiwa kebes tersebut Dawan Lor ( Utara ) memisahkan diri dengan Dawan Selatan yang akhirnya Dawan itu disebut  Desa Besan, karena Kebesan ( serpihan ) dari Desa Dawan.

           Demikian pula dengan Desa Dawan Selatan terjadinya Kebes akibat bencana wabah dalam perkembangan selanjutnya terpecah menjadi dua Desa Dawan, Kubayan Kuta Panjangan yang nama sebenarnya I Gusti Tanggan berputra dua orang masing-masing yang sulung bernama I Gusti Wayan Besan, diberikan memegang kekuasaan di Dawan Kaler dan adiknya yang bernama I  Gusti Nengah Sebetan diberikan memegang kekuasaan di Dawan Klod.

          Sejak itulah Desa Dawan terbagi menjadi dua Desa, namun meskipun demikian dua Desa tersebut masih menjadi satu Desa Adat.

         Sedangkan Desa Besan terpisah menjadi Desa Adat dan Desa Dinas tersendiri sejak tahun l613-1691 masehi,saat mulai dibangunnya Pura Puseh, Pura Bale Agung. Sehingga dengan uraian diatas jelas disebutkan Desa Dawan karena dari awal mula tinggalnya orang-orang di wilayah ini membangun pondok-pondok memanjang dibawah kaki bukit yang membujur ke selatan ke utara.

         Demikianlah dapat diungkapkan kembali sejarah tentang Desa Dawan yang serba singkat dengan cara penyusunan yang sangat sederhana dan sudah tentu masih kurang sempurna.         

  • Dibaca: 401 Pengunjung